English assessment 20/09/24
Nama: Aldy Ayudias Pasya
Kelas: XI-C
Hati yang Terhibur oleh Kumis
Hujan rintik-rintik membasahi jendela kamar, seakan ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti hati Aella. Gadis remaja itu duduk di tepi ranjang, tatapan kosongnya menerawang jauh ke luar. Pikirannya kalut, dipenuhi oleh rasa hampa dan keputusasaan. Hari demi hari terasa begitu berat, beban hidup seakan menghancurkannya perlahan.
Aella merasa begitu lelah dengan segalanya. Masalah di sekolah, tekanan dari orangtua, dan perasaan tidak berguna membuatnya ingin menyerah. Dengan hati yang remuk, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tangisnya pecah, air mata membanjiri pipinya.
Dengan langkah gontai, Aella berjalan menuju lemari obat. Matanya tertuju pada sebotol pil tidur yang masih tersisa. Tangannya gemetar meraih botol itu. Ia membuka tutupnya dan mulai menghitung pil satu persatu. Pikirannya kosong, hanya ada satu tujuan yang ingin ia capai.
Namun, saat hendak menelan pil-pil itu, terdengar suara kecil mengeong di luar jendela. Aella menoleh dan melihat seekor kucing kecil berwarna oranye sedang menatapnya dengan mata yang besar dan bulat. Kucing itu tampak basah kuyup karena hujan, bulunya lepek dan menempel di tubuhnya.
Aella tertegun sejenak. Ia melihat kucing itu menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding, berusaha mengeringkan bulu-bulunya. Kucing itu tampak begitu kesepian dan membutuhkan perlindungan. Tiba-tiba, Aella merasakan sebuah sentakan di hatinya. Ia teringat pada kata-kata ibunya, "Selalu ada alasan untuk tetap hidup, Nak."
Aella meletakkan botol pil tersebut dan berjalan mendekati jendela. Ia membuka jendela dan mengulurkan tangannya. Kucing itu ragu-ragu sejenak, lalu perlahan-lahan mendekati Aella dan melompat ke dalam pelukannya. Aella memeluk kucing itu erat-erat. Hangat tubuh kucing itu membuatnya merasa tenang.
Dalam pelukan kucing itu, Aella merasa ada secercah harapan yang kembali tumbuh di hatinya. Ia menyadari bahwa masih ada makhluk hidup yang membutuhkannya. Kucing kecil itu telah memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup.
Sejak saat itu, Aella mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia merawat kucing kecil itu dengan penuh kasih sayang. Kucing itu menjadi sahabat terbaiknya, selalu ada untuknya di saat suka maupun duka. Aella mulai membuka diri pada orang-orang di sekitarnya dan meminta bantuan.
Perlahan tapi pasti, Aella mulai merasa lebih baik. Ia belajar untuk menerima dirinya sendiri dan menghadapi masalah dengan lebih bijaksana. Kisah kucing kecil itu telah mengajarkannya arti kehidupan dan pentingnya menghargai setiap momen yang ada.
*Note: Teks ini di sempurnakan oleh Ai (Gemini), ini teks dari draft-ku ini hanya berupa One-shot.
**Note: Belum ada kelompok, jadi ini hasil individu, karena belum adanya pembagian kelompok.


Komentar
Posting Komentar